GALERIWISATA.ID – Indonesia tercatat memiliki 12 UNESCO Global Geopark, 10 Situs Warisan Dunia, dan 16 warisan budaya takbenda yang tercatat di UNESCO.
Selain itu sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau sebagai keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Selain itu memiliki lebih dari 6.100 desa wisata yang menawarkan tradisi dan kearifan lokal dimana lima di antaranya telah diakui sebagai desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism.
Menpar Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan pihaknya saat ini memfokuskan pembangunan pada pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal di 13 destinasi utama yang terdiri atas 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif.
Di saat yang sama, ruang tetap dibuka bagi pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memimpin pengembangan destinasi lainnya secara mandiri.
“Visi kami tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan memastikan peluang yang adil bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Sepanjang 2025, sektor pariwisata mencatat kinerja solid dimana kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 13,98 juta pada periode Januari–November 2025.
Untuk itulah kunjungan wisman diproyeksikan menyentuh 15,34 juta kunjungan pada akhir Desember, melampaui target batas atas sebesar 15 juta kunjungan.
Diakui Menpar Widiyanti Putri Wardhana, rata-rata pengeluaran per kunjungan wisatawan internasional meningkat menjadi 1.259 dolar AS pada tiga kuartal pertama 2025, melampaui target 1.220 dolar AS.
Dampaknya, penerimaan devisa pariwisata tercatat sebesar 13,82 miliar dolar AS dan diproyeksikan menembus 18,53 miliar dolar AS pada akhir tahun.
Sektor ini juga menjadi motor penciptaan lapangan kerja dengan menyerap 25,91 juta tenaga kerja per Agustus 2025 dan ditargetkan meningkat menjadi 26,53 juta pada 2026.
Sedangkan dari sisi jumlah kunjungan absolut pada periode Januari–November 2025 di tingkat ASEAN.
Indonesia menempati peringkat kelima dimana tantangan utama yang dihadapi antara lain tingginya brand awareness negara tetangga, seperti Thailand melalui diplomasi kuliner globalnya, serta kebijakan visa Indonesia yang relatif lebih ketat.
Namun, dari sisi pertumbuhan, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di kawasan.
“Jika kita membandingkan dengan Malaysia, misalnya, kita perlu mengecualikan data ekskursionis, yakni pelancong yang hanya melintas singkat untuk kebutuhan harian. Dengan perbandingan yang setara, pertumbuhan Indonesia sangat kompetitif,” katanya.
Sedangkan dalam menyongsong 2026, Kemenpar mengkurasi lima program unggulan, yakni penguatan keamanan pariwisata, peningkatan skala dan kualitas desa wisata, pengembangan Paket Wisata Tematik, penguatan program Event by Indonesia, serta Tourism 5.0 melalui pemanfaatan teknologi.
Selain gastronomi, wisata kesehatan (wellness), dan bahari, pengembangan kini merambah sektor seni, desain, dan tekstil untuk memperluas daya tarik bagi segmen wisatawan menengah ke atas (high-end travelers).***