Menengok Grebeg Sudiro, Penggabungan Event Budaya Jawa dan Tionghoa di Kota Solo
Menengok Grebeg Sudiro, Penggabungan Event Budaya Jawa dan Tionghoa di Kota Solo
Grebeg Sudiro berpusat di Pasar Gede Solo, acara ini menggabungkan nilai tradisi dan budaya Jawa dan Tionghoa sekaligus yang biasanya digelar pada Januari atau Februari setiap tahunnya.

GALERIWISATA.IDEvent Grebeg Sudiro yang digelar di Kota Solo, sudah lama masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) oleh Kemenpar RI.

Grebeg Sudiro dinilai mampu membangun keberlanjutan budaya masyarakat setempat yang kemudian dikemas dalam atraksi yang menarik.

Berpusat di Pasar Gede Solo, acara ini menggabungkan nilai tradisi dan budaya Jawa dan Tionghoa sekaligus yang biasanya digelar pada Januari atau Februari setiap tahunnya.

Dimulai di tahun 2008 saat Oei Bengki, Sarjono Lelono Putro, dan Kamajaya dengan persetujuan Lurah Sudiroprajan menggelar event sedekah bumi dan kirab budaya.

Sedekah bumi sendiri biasanya digelar 7 hari pasca kirab budaya yang dimulai dari Kelurahan Sudiroprajan berkeliling kawasan sekitar.

Berbagai acara meliputi Umbul Mantram, Bazar Potensi UMKM, Wisata Perahu, Karnaval Budaya, hingga Pesta Kembang Api.

Tujuannya adalah menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas nikmat dan berkah yang diberikan selama ini.

Event ini pada mulanya hanya diikuti warga Sudiroprajan saja di tanggal 3 Februari 2008 dan kemudian diikuti warga Tionghoa setahun berikutnya.

Lambat laun, Grebeg Sudiro diikuti banyak khalayak seiring dengan penetapan acara ini sebagai kalender wisata tahunan oleh Pemkot Solo.

Penggabungan tradisi Islam seperti Maulid Nabi Muhammad, Muharram, Idul Fitri dan Idul Adha dengan Imlek dan tradisi Tionghoa lainnya, sungguh sangat memikat.

Tak heran, berbagai ornamen Jawa dan Tionghoa, melekat erat dengan pelaksanaan Grebeg Sudiro yang dipusatkan di dekat Prasasti Bok Teko, Sudiroprajan, di sekitar Pasar Gede Solo.

Tidak itu saja, Grebeg Sudiro ternyata juga mampu menggabungkan keberagaman dan kebhinekaan di negeri ini.

Toleransi dan sikap saling menghargai warga yang berbeda suku dan agama, menjadi penanda bahwa Grebeg Sudiro pemersatu bangsa.

Juga kolaborasi budaya Jawa, Islam dan Tionghoa yang menjadi keseharian nafas warga Solo, terlihat erat melekat satu sama lain.

Dan kini, tentu Grebeg Sudiro telah menggabungkan potensi ekonomi kreatif dan kuliner warga untuk dapat ditawarkan kepada pengunjung.***

REAKSI ANDA?