Home » Wow! Di Pecinan Ada Masjid Yang Jadi Persembunyian Pangeran Diponegoro

Wow! Di Pecinan Ada Masjid Yang Jadi Persembunyian Pangeran Diponegoro

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

KEBERADAAN masjid kecil ini jauh dari hiruk pikuk sekitar. Padahal kawasan Pecinan, adalah salah satu tempat tersibuk di Semarang.

Ya Masjid An Nur, adalah salah satu peninggalan kuno kaum muslim Tionghoa di kawasan Pecinan. Diperkirakan di bangun di tahun 1650, Masjid An Nur diduga juga pernah menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro saat berjuang melawan Belanda.

Kabarnya, di sini pula Sang Pangeran belajar mengaji memperdalam ilmu keislamannya meski hanya sesaat. Sebuah peninggalan keris disebut terkait erat dengan kehadiran Diponegoro di tempat ini meski sudah tidak diketahui lagi dimana keberadaan keris ini kini.

Meski tidak ada literatur atau bukti otentik, namun kepercayaan ini melekat kuat. Maka jadilah namanya kini Masjid An Nur Diponegoro yang berada di Jalan Menyanan Kecil 309, menjorok masuk dari ujung Jalan Beteng yang sibuk.

Sesepuh Kampung Menyanan H Imam Syafii menuturkan musola itu pernah hilang namun kemudian ditemukan lagi sekitar 1967. Saat ditemukan kondisinya sangat memprihatinkan dan tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi.

Bangunan utama masjid itu hanya musola dengan ukuran 3 x 3 meter. Saat ini masih nampak utuh bangunan asli yang terdiri dari enam pilar dan pengimaman dengan tulisan nama-nama sahabat Nabi Muhammad Saw.

“Ada tulisan Abu Bakar as Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dua makam di samping kiri juga sudah dipindah dan kini ditutup keramik,” tuturnya.
Lalu kemudian pada 1993 banguan kuno itupun direhab. Dan tampaklah wujudnya seperti yang sekarang ini terlihat. Imam Masjid An Nur M Kodirun (45) menambahkan warga di Gang Menyanan Kecil ini yang merupakan warga asli pribumi sudah mulai habis.

Baca juga :  Mengunjungi Goa Kreo: Bambu Krincing dan Legenda Sate Kambing

Jumlah rumah juga tinggal enam, karena sudah dibeli Yayasan Kebondalem. Gang di depan masjid sudah buntu, dulu tembus hingga jalan di dekat SMA Kebondalem.

“Suara azan jangan sampai hilang. Selain warga, yang solat di sini ya pekerja, buruh di sekitar Pecinan. Pas Ramadhan ya kami beraktivitas seperti biasa laksana masjid lain di bulan suci ini,” imbuh bapak tiga anak yang sehari-hari berjualan nasi goreng keliling itu.

Artikel Lainnya

Leave a Comment