Home » Wayang Potehi dan Eksistensi Thio Hauw Lie

Wayang Potehi dan Eksistensi Thio Hauw Lie

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

SOBAT Galwis pernah dengan kata wayang potehi? Yap benar, layaknya wayang lain yang ada di negeri ini, potehi juga merupakan boneka yang dimainkan dengan cerita-cerita tertentu.

Menariknya, salah satu dalang dan kesenian wayang potehi ini masih eksis dan bertahan di Semarang lo sob. Adalah Thio Hauw Lie yang merupakan anak kelima dari mendiang seniman kondang wayang potehi, Thio Tiong Gie.

Penampilannya di panggung Pasar Imlek Semawis (PIS) 2020, membuktikan kesenian kuno dari Tiongkok ini masih bertahan. Masyarakatpun menanti-nanti penampilannya.

Tak heran jika Pasar Imlek Semawis mengangkat Potehi sebagai tema besarnya. Tidak saja ingin mempertahankan seni langka ini, namun juga memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.

Karena eksistensi itu pula, Thio Hauw Lie memperoleh penghargaan Pelestari Budaya Non Ragawi Pecinan Semarang. Iya, peran dalang potehi di balik bilik merah selebar 2×1,5 meter itu kini mendapat jawaban.

Tidak saja disambut antusias penonton, namun juga pemerhati budaya. Pun Pasar Imlek Semawis juga telah menempatkan potehi pada tingkat tertinggi sebuah gelaran.

Dari balik bilik merah menyala yang bagian depannya dihias dua tokoh tikus, dalang (sai hu) Thio Hauw Lie dibantu wakil dalang (djie djiu), saling berbagi peran menghibur warga. Tiga pemusik ikut membantu mendendangkan iringan khas gembreng, kecrek, rebab, suling dan piak-kou.

Galeri Wisata

Cerita-cerita klasik baik kepahlawanan, kerajaan maupun cerita mistis tentang siluman, silih berganti dikumandangkan. Dua kisah yang paling fenomenal kita kenal di Indonesia adalah Kera Sakti dan Legenda Siluman Ular Putih.

Selama tiga hari penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis, potehi diangkat sedemikian tinggi. Penghargaan akan budaya yang sudah hadir sejak Dinasti Jin pada 3.000 tahun lalu.

Baca juga :  5 Tips Piknik Tipis-Tipis di Kota Sendiri

Hauw Lie sendiri semula hanya mendampingi ayahnya yang dalang legendaries tersebut saat pentas. Sesekali, ia mengambil peran sebagai pemusik atau djie djiu.

Saat itulah ia banyak mempelajari serta menghafal gerakan tangan serta narasi cerita yang disampaikan. Begitu pula dialog-dialognya.

Galeri Wisata

Di tengah kepungan zaman, Hauw Lie merasa khawatir tentang nasib potehi. Selain minim penerus, perkembangan teknologi kini juga semakin menggerus minat warga untuk menanggap dan menonton potehi, memupus kesempatan para dalang mendapat sesuap nasi.

Namun semoga kini nasib potehi semakin membaik. Semakin banyak orang yang sadar akan warisan budaya ini dan menjaganya sampai anak cucu kita ikut menikmatinya.

Baca Juga: Jamuan Tok Panjang Tutup Pasar Imlek Semawis2020

Artikel Lainnya

Leave a Comment