Home » Warak Raksasa Warnai Prosesi Budaya Dugderan 2019

Warak Raksasa Warnai Prosesi Budaya Dugderan 2019

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

RIBUAN warga menyemut memadati Jalan Pemuda. Mereka rela berdesak-desakan demi menonton dari dekat Proses Budaya Dugderan 2019 dari Halaman Balaikota hingga Masjid Kauman di Johar yang juga menampilkan replika warak ngendog setinggi 6 m. Alhasil, kehadiran warak raksasa ini menyita perhatian banyak orang.

Perwakilan Lembaga Prestasi Indonesia (Leprid)-pun tak urung memberikan penghargaan atas insiatif, pemrakarsa dan pembuatan warak raksasa ini. Walikota Hendrar Prihadi yang menerima penghargaan bersama Kadisbudpar Indriyasari dan Benk Mintosih dari perwakilan PHRI, menyambutnya bangga.

Galeri Wisata

“Dugderan adalah tradisi yang sudah ada sejak lama bahkan sejak era Kanjeng Bupati Aryo Purbaningrat atau Sunan Pandanaran sebagai Bupati Semarang pertama, jadi harus kita lestarikan. Kalau ada pihak yang menyumbang warak, tentu kami sambut baik sebagai bentuk bergerak bersama antara pemerintah dan elemen masyarakat, swasta serta media,” terang Walikota Hendrar Prihadi.

Dijelaskan, prosesi dugderan digelar sebagai bentuk nguri-uri budaya menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Karenanya, Hendi sekaligus mengajak seluruh elemen warga untuk menahan diri dan meningkatkan kesabaran serta amal ibadah.

Apalagi beberapa waktu lalu, warga sempat terpecah dukungannya dengan adanya Pemilu 2019. Oleh karenanya, ia mengajak seluruh pihak untuk kembali bersatu membangun Kota Semarang melalui kreativitas.

“Ini yang menarik dari dugderan tahun ini karena partisipasi warga semakin banyak, semakin meriah. Saya harapkan warga Semarang bersih-bersih diri, jaga kondisi fisik dan memperbanyak hal-hal positif serta amalan baik di bulan suci ini,” tukasnya.

Galeri Wisata

Dibuka dengan penampilan marching band Gema Perwira Samodera dari PIP (Politeknik Ilmu Pelayaran), aksi-aksi mereka menggugah warga untuk merapat. Diikuti dengan rombongan seluruh General Manager (GM) hotel se-Kota Semarang yang mengarak warak raksasa, dilanjutkan dengan rombongan warga yang membawa aneka manggar.

Baca juga :  Tertahan di Bandara Moscow, Tas Roro Kenes Justru Makin Moncer

Di barisan paling belakang, Walikota yang berperan sebagai Kanjeng Bupati RMT Aryo Purbaningrat bersama istri mengendarai kereta kencana menuju Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) untuk menerima shukuf halakoh. Nantinya, shukuf ini akan dibacakan dan diumumkan sebagai pertanda awal Ramadhan, didahului dengan pemukulan bedug dan penyalaan mercon yang berbunyi dug-dug dan der dor sebagai awalan kata dugderan.

Galeri Wisata

Shukuf ini sendiri kira-kira merupakan penanda bahwa Bulan Ramadhan sudah dimulai, dan warga diharapkan ikut berpuasa serta dapat mengendalikan emosi. Usai dari Masjid Kauman, rombongan kembali bergerak menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk kembali menyerahkan shukuf halakoh kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang berperan sebagai RMT Probo Hadikusumo.

Artikel Lainnya