Home » Unik! Di Tradisi Gebyuran Bustaman, Kamu Tidak Boleh Marah

Unik! Di Tradisi Gebyuran Bustaman, Kamu Tidak Boleh Marah

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

MARAH? Itu adalah salah sifat buruk manusia. Namun di Gebyuran Bustaman, buang jauh-jauh rasa marahmu, nikmati saja tradisi dan sensasi perang airnya.

Itulah yang terjadi ketika ratusan warga dan peserta Gebyuran Bustaman tumpah ruah, Minggu (28/4) di Kampung Bustaman. Di gang kampung yang sempit ini, dilangsungkan perang air demi menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1440 H.

Syaratnya, bagi yang terkena lemparan atau guyuran air, tidak boleh marah. Boleh membalas melempar namun harus dengan tawa bahagia, sebahagia umat muslim menyambut datangnya Ramadhan.

Ratusan memenuhi gang-gang di Kampung Bustaman. Mereka bersiap mengikuti proses Gebyuran Bustaman, yang digelar demi menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1440 H, Minggu (28/4).

Sebelum acara berlangsung, seluruh peserta mencoreng wajah dengan aneka cat warna-warni. Filosofinya, cat tadi adalah sebagai sifat buruk manusia yang harus dibersihkan melalui gebyuran (mandi).

Alhasil begitu bunyi kentongan dipukul titir (bertalu-talu), perang airpun dimulai. Kantong-kantong plastik berisi air berwarna atau air jenih, melayang tak tentu arah mencari sasaran.

Yang terkena lemparan lalu basahpun hanya meringis, lalu balas menyerang, masih dalam tawa. Yang tidak kebagian kantong air, membawa aneka rupa alat seperti ember, gayung ataupun botol bekas air mineral, hingga selang dari kran langsung dimanfaatkan untuk menyerang balik.

Ditimpa dengan aneka warna bubuk, perang air semakin meriah. Warna-warninya membuat Gebyuran Bustaman menjadi tradisi perang air yang harus dilestarikan.

“Syaratnya hanya satu, tidak boleh marah jika terkena lemparan air. Makanya bagi warga atau pengunjung tidak diperkenankan membawa alat elektronik karena dapat tersiram air kapanpun juga,” terang Hari Bustaman, sesepuh kampung.

Galeri Wisata

Dijelaskannya, tradisi ini berawal dari pendiri kampung yakni Kertoboso Bustam yang selalu memandikan anak-anaknya di sumur tua setiap kali menjelang Ramadhan.

Baca juga :  Vinus Karoake Ajak Masyarakat Jauhi Narkoba

“Sudah lima tahun terakhir tradisi ini kami hidupkan kembali untuk mengenang semangat pendiri kampung. Sekaligus sebagai sarana mensucikan diri memasuki bulan puasa,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Indriyasari menjelaskan jika pihaknya sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan sudah memasukkannya dalam agenda wisata Kota Semarang.

Ia berharap, Gebyuran Bustaman dapat dijual sebagai paket wisata layaknya Festival Songkran di Thailand.

“Ini sama, hanya mungkin kemasannya yang agak berbeda. Tapi saya optimis, Gebyuran Bustaman dapat dijual layaknya Songkran,” tandasnya sembari menghindari lemparan air meski tak urung ia ikut basah.

Artikel Lainnya