Home » Sampar Banyu; Nguri Tradisi Anti Kekeringan dari Sendang Leri

Sampar Banyu; Nguri Tradisi Anti Kekeringan dari Sendang Leri

by galeriwisata.id
Sampar Banyu Wonolopo

IRING-iringan warga berjalan perlahan. Terik mentari Minggu pagi 19 September yang dalam penanggalan Jawa masuk bulan Safar di pasaran Pon, tak menyurutkan langkah mereka menuju Sendang Leri.

Sebuah sumber mata air yang tak pernah surut debitnya meski di musim kemarau. Sendang ini pula yang terus memberikan pengharapan hidup bagi warga sekitar untuk tetap bertahan dan berjuang di tengah semua terpaan cobaan hidup.

Meski pohon Ipik yang menaungi sendang ini sudah lebih dulu tumbang dan berangsur kembali ke bumi, namun mata airnya terus memancar. Tak pernah jeda dari aktivitas warga yang kesehariannya membutuhkan air bersih, demi kehidupan yang makin baik.

Festival Sampar Banyu

Sumber: IG @agus_boedi_santoso

Di sendang ini pula, tradisi Sampar Banyu dipusatkan. Sebagai bentuk ungkap rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta sekaligus doa dan harapan agar mereka terhindar dari kekeringan, ia juga mengambil nama lain Sedekah Rebo Pungkasan.

Selama ratusan tahun, warga Krajan Lor, Desa Wisata Wonolopo di Kota Semarang berusaha mempertahankan tradisi ini secara turun temurun. Pemecahan kendi yang berisi air sendang, menjadi pembuka tradisi.

Dilanjutkan dengan saling menyiram air menggunakan tangan antar warga, inilah esensi dari tradisi sampar banyu. Di belakang, warga sudah menyiapkan tumpeng berjumlah 12, sesuai dengan pasaran penangggalannya.

Sego golong, nasi tampah dan tumpeng, wujud syukur terdalam warga atas karunia Tuhan selama ini. Makan bersama seluruh warga, tentu menjadi momen paling ditunggu.

Apalagi semua santapan memang berasal dari hasil bumi warga sekitar. Bagi warga, filofosi bumi hidup dan menghidupi kehidupan mereka dijunjung tinggi.

Momen baik inipun dimanfaatkan sekaligus untuk pelantikan Ketua Pokdarwis yang baru. Penuh semangat, dedikasi dan ide-ide segar memajukan industri pariwisata di Wonolopo.

Sampar Banyu Wonolopo

Sumber: Ig @agus_boedi_santoso

Sayang, tradisi ini belum mampu dikemas sebagai festival yang lebih menarik. Pandemi menjadi pembatas kreasi untuk menciptakan produk pariwisata.

Baca juga :  Warak Raksasa Warnai Prosesi Budaya Dugderan 2019

Setidaknya, sektor ini masih harus bersabar mendulang devisi dan rupiah untuk warga hingga tahun depan. Karena itulah, Sampar Banyu juga menjadi ajang panjat doa agar warga selalu terhindar dari Korona dan mengusirnya jauh dari dunia, semata agar kita dapat kembali mensyukuri nikmat-Nya.

Semoga…

Artikel Lainnya

Leave a Comment