Home Destinasi Kota Lama Makin Ramah Buat Pejalan Kaki dan Difable

Kota Lama Makin Ramah Buat Pejalan Kaki dan Difable

by minGal
Galeri Wisata

REVITALISASI Kota Lama mulai menampakkan hasilnya. Tidak sekedar ramah bagi pejalan kaki, namun Little Netherland juga ramah buat difable.

Setidaknya, inilah yang coba dibuktikan oleh TelusuRI melalui kegiatan bertajuk Sekolah TelusuRI Semarang #6: TelusuRI Sejarah Jalur Kota Lama – Pecinan, Semarang. Mereka hendak membuktikan bahwa pariwisata Kota Semarang tidak memiliki batas dan kendala bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

“Sekolah TelusuRI bisa menjadi wadah untuk siapa saja belajar dan berkontribusi positif terhadap perkembangan pariwisata yang berkelanjutan. Kita datang ke sebuah tempat, nggak hanya untuk berswafoto saja, tapi juga menelusuri apa saja yang ada di dalamnya. Apalagi banyak hal yang bisa dipelajari di kawasan cagar budaya ini. Mulai dari arsitekturnya, sejarahnya, hingga aktivitas masyarakat yang ada,” terang perwakilan TelusuRI Yovita Ayu.

Diakuinya, Kawasan Kota Lama kian menarik perhatian. Revitalisasi yang berjalan beberapa tahun belakangan mulai tampak rupanya.

Gedung-gedung tua tak terawat mulai berkurang sehingga wajahnya kini terlihat lebih apik. Begitu juga dengan cerita sejarah di baliknya yang makin menarik untuk ditelusuri bahkan dengan berjalan kaki.

“Pemkot Semarang telah mengintegrasikan Kawasan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, dan Kampung Arab. Tema yang diangkat yakni Pop Culture of Java sangat pas untuk mendongkrak jumlah wisatawan,” tukasnya.

Galeri Wisata

Karenanya, pihaknya bersama Pemandu Wisata Kota Lama, DigiTiket dan Restoran Pringsewu, mengajak belasan wisatawan penyandang disabilitas untuk walking tour di kawasan ini, Minggu (20/10) lalu. Hal ini sekaligus menguji seberapa ramah kawasan wisata Kota Lama untuk mereka yang berkebutuhan khusus dan mengadvokasikan akses agar Semarang bisa menjadi kota yang inklusi dan ramah disabilitas.

“Di acara kali ini, kita punya dua rute. Rute pertama yakni dari Kota Lama hingga Pecinan untuk teman-teman reguler dan rute kedua yakni Kota Lama saja untuk teman-teman penyandang disabilitas. Teman-teman difabel juga akan kita ajak mampir ke Filosofi Kopi dan menjajal aktivitas fun cupping coffee di sana,” imbuh Pemandu Wisata Kota Lama Juliansyah Ariawan.

Reza Kurniawan Cerebral Palsy dan pengguna kursi roda asal Semarang mengakui belum meratanya akses untuk difabel di beberapa tempat wisata. Misalnya saja di rute Kota Lama saja, masih cukup banyak pedestrian maupun gedung yang belum accessible oleh teman-teman penyandang disabilitas.

“Ketersediaan aksesibilitas bagi difabel seharusnya bukan hanya ditujukan pada di tempat-tempat pokok seperti rumah sakit, sekolah dan tempat-tempat lain yang dianggap penting. Kami, difabel juga mempunyai hak untuk melakukan kegiatan di public space lain seperti tempat wisata. Karenanya, penting untuk menyediakan aksesibilitas tersebut supaya kami juga bisa menikmati fasilitas umum dengan layak,” harapnya.

Galeri Wisata

Ia dan rekan-rekan disabilitas lain berharap, Pemkot dan pengelola Kota Lama semakin banyak menyedian papan informasi visual yang berisi informasi berupa peta, petunjuk jalan, sejarah bangunan di setiap gedung, juga informasi rute BRT. Dengan begitu, informasi wisata dapat dengan mudah diakses.

“Semoga akses ini juga akan diterapkan pada fasilitas umum lain seperti transportasi umum. Hal penting lainnya, saya berharap masyarakat paham bagaimana cara berkomunikasi dengan teman tuli. Berkomunikasi dengan teman teman tuli tidak harus menggunakan bahasa isyarat, kita juga bisa berkomunikasi dengan cara menulis dan menggunakan gesture,” imbuh penyandang disabilitas tuli, Tony Yuliyono.

Artikel Lainnya

Leave a Comment