Home Akomodasi Kota Lama Diintegrasikan dengan Pecinan, Arab dan Kampung Melayu

Kota Lama Diintegrasikan dengan Pecinan, Arab dan Kampung Melayu

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

KAWASAN Kota Lama dalam waktu dekat akan diintegrasikan dengan kawasan Pecinan, Arab dan Melayu. Dalam waktu dekat, Dinas Penataan Ruang (Distaru) akan menyiapkan kajian terkait kebijakan tersebut.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan setidaknya di tahun 2021, integrasi ketiga kampung di sekitar Kota Lama itu sudah dapat terwujud. Begitu pula dengan penataan dan penyiapan sarana di ketiga kawasan.

“Iya memang sudah lama rencana ini dan saya sudah meminta Distaru untuk membuat kajian dan Detail Engineering Design (DED)-nya,” terangnya.

Dijelaskan, dengan terintegrasinya tiga kawasan ini, ikon wisata budaya Kota Semarang akan semakin kuat. Mengusung tema Pop of Culture Java, perwujudan tiga integrasi Kota Lama, Pecinan, Arab danMelayu, akan mengukuhkan status Semarang sebagai kota multikultur.

Hendi optimis, wisatawan akan semakin banyak datang. Dengan demikian, ekonomi dan kesejahteraan warga sekitar juga akan bergulir serta berkembang.

“Ketiga kampung itu merupakan kawasan cagar budaya. Harapannya menjadi cagar budaya nasional usai diintegrasikan dengan Kota Lama,” tukasnya.

Dengan berstatus menjadi cagar budaya nasional, maka pola pembangunan di kawasan tersebut harus ditata sesuai dengan aturan perundang-undangan cagar budaya yang berlaku. Hendi sapaan akrabnya, melanjutkan, terkait pembangunan kawasan Kota Lama hingga saat ini masih terus berlangsung.

Sekretaris Distaru Kota Semarang M Irwansyah sebelumnya mengatakan, terkait pengembangan Pecinan, saat ini sudah cukup menonjol pertumbuhannya, seperti adanya agenda rutin Warung Semawis dan lain-lain. Keberadaan beberapa klenteng, paket wisata, rumah kuno dan aktivitas warga Pecinan sudah sangat mengangkat performa kawasan ini.

“Nantinya tinggal dilakukan penataan dan kelengkapan sarana prasarana secara bertahap,” katanya.

Untuk Kota Lama, pihaknya akan melakukan ekskavasi banteng kuno. Di titik-titik tertentu nanti diperlihatkan dan tidak digali secara keseluruhan.

“Salah satunya struktur ujung benteng akan diperlihatkan dijadikan museum, yakni di daerah Bubakan,” katanya.

Posisi benteng tersebut saat ini terpendam di dalam tanah di kedalaman kurang lebih 1-2 meter. Terpendamnya benteng di Kota Lama ini tak terlepas dari adanya pengembangan infrastruktur transportasi kereta api Stasiun Tawang di era Belanda.

“Pihak BPCB juga akan melakukan kajian lagi. Yang jelas, prinsipnya dalam pembangunan kota tidak boleh ada suatu wilayah yang bangunannya tidak berfungsi, bermanfaat, ataupun berdayaguna. Bangunan cagar budaya setelah dirawat juga akan menjadi potensi yang lebih produktif,” ungkapnya.

Artikel Lainnya

Leave a Comment