Home » Kisah Mbah Carik dan Makam Carikan, Tokoh Keraton Solo Yang Jadi Sesepuh Jatingaleh

Kisah Mbah Carik dan Makam Carikan, Tokoh Keraton Solo Yang Jadi Sesepuh Jatingaleh

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

NAMA Mbah Carik mungkin tidak banyak yang tahu. Beda halnya dengan mungkin Makam Carikan, setidaknya Sobat Galwis yang tinggal di Jatingaleh, pasti ngerti.

Ya, Makam Carikan sebenarnya mengambil nama dari Mbah Carik. Sosok penghuni pertama makam tersebut.

Tidak banyak memang sejarah yang bisa digali dari tokoh tersebut. Selain nama aslinya adalah Gondo Subroto.

Ia masih keturunan Keraton Surakarta Hadiningrat. Gelarnya adalah Senopati Bendoro Raden Mas.

Sosoknya dikenal sebagai pejuang dan pebisnis handal. Sayang, tidak banyak lagi sejarah yang bisa digali dari Mbah Carik ini.

Sutarto, juru kunci Makam Carikan menuturkan, pada mulanya Jatingaleh merupakan hutan belantara. Ia terpisah dengan pusat Kota Semarang kala itu yang dimungkinkan ada di Oudestad.

Ketika ditemukan, hanya ada makam itu sendiri di tengah hutan. Di sekelilingnya terdapat banyak pohon dengan buah berwarna ungu, entah apa namanya.

“Ketika ditemukan masih ada dua pohon ungu besar di sini. Salah satunya diminta oleh Pangdam IV Diponegoro saat itu, Pak Widodo untuk dijadikan keranda bagi keluarganya yang meninggal. Kata beliau, sudah mencari pohon semacam itu di seantero tanah air dan hanya ketemu pohonnya di sini,” kisahnya.

Makam Carikan sendiri sesuai perkembangan zaman, telah menjadi pemakaman umum. Ratusan bahkan mungkin ribuan warga dikuburkan di sini.

Sementara makam Mbah Carik, berada di bagian paling depan, dekat pintu masuk. Di sekelilingnya sudah dipasang pagar besi setinggi 1 meter, lengkap dengan nisan bertuliskan besar.

Ada logo Kraton Solo di atasnya. Masih menurut Sutarto, beberapa tahun silam, kerabat Mbah Carik mencari keberadaan makam dan menemukannya di sini.

Kerabat itu juga berkisah bahwa Mbah Carik masih keturunan Kraton Solo. Namun mereka tidak keberatan jika nama lengkap Senopati Bendoro Raden Mas Gondo Subroto, tidak dipasang di nisan.

Baca juga :  Pengantin Semarangan Dinobatkan Sebagai Kekayaan Budaya Nonbenda

“Mereka ikhlas jika yang dipasang hanya nama Mbah Carik namun menambahkan logo kraton di atas nama tersebut,” pungkasnya.

Maka wajar jika Walikota Semarang Hendrar Prihadi berkenan menghadiri sadranan di makam ini. Bersama ratusan warga, ia berdoa bersama demi arwah para leluhur yang sudah mendahului.

Hendi juga menyiramkan air kendi untuk membilas nisan. Menabur bunga di atas pusara, sembari berdoa kepada Allah agar Semarang selalu dinaungi kesejahteraan, dilimpahi keberkahan, keamanan dan jauh dari bencana.

“Ini salah satu kekayaan wisata religi di Semarang, harus diuri-uri,” tandas orang nomor satu di Semarang ini.

Artikel Lainnya

Leave a Comment