Home Kuliner Javara Culture Gelar Pameran Rempah Dan Bahan Pangan Kuno Indonesia

Javara Culture Gelar Pameran Rempah Dan Bahan Pangan Kuno Indonesia

by minGal
Galeri Wisata

RATUSAN rempah dan bahan kuno yang dipamerkan Javara Culture di ruang pamer Gedung Oudetrap, menarik perhatian pengunjung. Tak urung, Kota Lama sore itu hingar oleh ramainya warga.

Dan memang, pesona pangan kuno Indonesia kini sudah mulai terlupakan. Karena itulah, Javara Culture berusaha mengembailkan kejayaan berbagai agam bahan makanan tersebut di Indonesia, dimulai dari Semarang.

Pendiri Javara Culture Helianti Hilman mengungkapkan dalam pameran tersebut pihaknya ingin mengajak masyarakat untuk kembali mengenal warisan nenek moyang. Banyak warga kini lebih memilih bahan praktis dan instan yang mungkin kurang baik buat kesehatan.

“Contohnya, beberapa rempah dan bahan pangan yakni, garam yang terbuat dari tanaman gula yang terbuat dari nipah, 14 jenis jagung dari Pulau Kisar, dan rempah-rempah lainnya,” terangnya.

Menurutnya, sangat disayangkan apabila harta melimpah milik Indonesia tersebut harus terlupakan oleh berbagai varian makanan modern. Helianti mengaku dirinya memulai upaya pelestarian bahan pangan dan rempah kuno Indonesia sejak 10 tahun lalu.

Saat ini pihaknya telah memiliki sekitar 900 jenis bahan pangan dan rempah Indonesia. Kata dia, saat ini pihaknya bekerja sama dengan sebanyak 52 ribu petani, perimba, dan nelayan di seluruh bagian Indonesia

“Dari jumlah itu, 300 jenis sudah terverifikasi oleh Eropa, Amerika, dan Jepang. Dan 55 jenis dari jumlah itu sudah kami ekspor dalam skala besar,” tukasnya.

Ditambahkan, pihaknya telah meneliti sedikitnya 76 jenis rempah dan bahan pangan kuno dari Indonesia. Menurut dia, sebelum masa kerajaan sudah banyak rempah dan bahan pangan kuno yang diperdagangkan.

“Kita punya sekitar 166 jenis rempah dan bahan pangan kuno yang sementara tercatat. Kami baru dapat menemukan 76 jenis saja. Contohnya, Cabe Jawa yang mana ditemukan fosilnya di kawasan Mesopotamia,” tandas Helianti.

Ditambahkan, dalam tiga tahun terakhir pihaknya telah berupaya meningkatkan minat masyarakat Indonesia untuk menggunakan rempah dan bahan pangan lokal.

Dia mengklaim, saat ini lebih banyak anak muda yang mau mengapresiasi kuliner asli Indonesia.

“Sekarang prosentasenya sekitar 50 persen ekspor dan 50 persen domestik,”imbuhnya.

Helianti berharap ke depan semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengapresiasi dan mencintai kuliner Indonesia.

“Prinsip kami adalah, Shop, Eat, Learn. Jadi masyarakat bisa belajar memasak juga bersama kami,” pungkas dia.

Artikel Lainnya

Leave a Comment