Home » Dunia Wisata Indonesia Butuh Peran Serta Perempuan, Ayo Terlibat!

Dunia Wisata Indonesia Butuh Peran Serta Perempuan, Ayo Terlibat!

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata

SOBAT Galwis mungkin sudah paham jika selama ini, peran perempuan dalam dunia pariwisata Indonesia, sangat besar. Tidak hanya sekedar sebagai model berfoto untuk konten media sosial, namun lebih dari itu.

Sayangnya, masih ada kendala serta kurangnya keterlibatan perempuan dalam dunia pariwisata khususnya sebagai pengelola. Selain itu masih ada stereotype tentang keterlibatan perempuan ini terutama dari unsur adat.

Chairwoman Sumba Hospitality Foundation Radempta Bato menjelaskan hal itu dalam Talkshow Women Tourism in Indonesia (WTIDTalk) Seri #1 Peran Perempuan dalam Pengembangan Pariwisata di Indonesia, Sabtu (1/8) lalu melalui aplikasi meeting virtual. Kendala lainnya adalah masih belum adanya kepercayaan diri sepenuhnya dari kaum wanita untuk terlibat dalam industri hospitality ini.

“Adapun peran perempuan selama pandemi covid ini adalah membuka ruang baru ekonomi untuk perempuan. Meningkatkan kemitraan kelompok-kelompok UMKM yang mayoritas di kelola oleh perempuan,” terangnya.

Ranny Rumondo Tumundo (Raja Ampat) yang merupakan Pemandu Wisata HPI Raja Ampat & Pemilik Travel Ethnic Journey menambahkan, pihaknya terus memberikan edukasi kepada masyarakat dan pemandu-pemandu lokal terkait aspek pariwisata berkelanjutan di Raja Ampat. Pelatihan konservasi sangat penting diberikan kepada guide lokal yang ada di Raja Ampat dengan harapan kegiatan pariwisata yang dilakukan tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan alam dan budaya serta sosial.

Sanawiyah  Manager BUMDes Labuhan Jambu (Sumbawa) berusaha terus melakukan pendekatan kepada masyarakat khususnya meningkatkan peran perempuan. Beberapa cara yang dilakukan adalah memberikan dukungan kepada perempuan yang ingin berkontribusi di wisata.

Senada dengan Sanawiyah, dalam kegiatan yang didukung sepenuhnya oleh Galeri Wisata ini, pembicara Rani Bustar yang juga Pemilik Kurabesi Explorer di Papua ini menambahkan jika piahknya juga melakukan pemberdayaan masyarakat lokal Papua untuk mengembangakan wisata di sana dengan memperhatikan aspek keberlanjutannya. Karenanya, kapal yang digunakan memiliki tujuan tidak hanya untuk wisata, tetapi untuk melakukan kegiatan sosial kepada masyarakat lokal.

Baca juga :  Ultah 5 Tahun, Noormans Hotel Usung Semangat Spirit Carries On

Di sesi 2, pembicara Elisnawati (Kendari) Instruktur selam dan pemilik Alexa Scuba mengakui jika pihaknya terus berupaya ikut memberdayakan masyarakat setempat agar jadi diver dan instruktur diving yang pro sesuai dengan standar yang ada melalui teknologi yang dikembangkan.

“Tantangan selama menjadi instruktur adalah karena hampir seluruh muridnya adalah laki-laki, jadi perempuan masih sedikit yang meminati diving ini. Kesempatan bagi perempuan juga masih terbatas, pada hal ini peluang yang besar,” tukasnya.

Adapun Direktur Bisnis & Development HS Silver dan Co founder @coachcircle.id Artin Wuriyani menambahkan jika perempuan harus berani bersikap, berpendapat dan berjejaring. Terlebih awareness terhadap kaum perempuan akan semakin luas dengan memanfaatkan teknologi.

Pembicara terakhir, Elasmobranch Project Coordinator Conservation International Indonesia Lita Hutapea berharap perempuan untuk ikut serta dalam berbagai kajian dan literasi berbasis konservasi. Perempuan juga harus bisa dan memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan teknologi.

Apalagi jika berbicara mengenai wisata satwa perairan membutuhkan perencanaan yang kompleks dan mendetail. Pemahaman akan pola perilaku dan kebiasaan dari satwa yang dijadikan sebagai atraksi wisata sangat diperlukan.

“Pemanfaatan teknologi berguna untuk mendeteksi dan memantau pergerakan satwa,” pungkasnya.

Artikel Lainnya

Leave a Comment