Home » Di Ranah Minang, Tak Lelah Mata Memandang

Di Ranah Minang, Tak Lelah Mata Memandang

by GaleriWisata.id

Banyak Spot untuk Swafoto

DESTINASI wisata di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), cukup lengkap. Mulai dari alam, terhampar di banyak tempat. Begitu juga warisan sejarah, melimpah. Bahkan bangunan legendaris yang tidak dijumpai di daerah lain seperti Kelok 9, seakan menjadi pilihan wajib yang harus dikunjungi traveller.

Meskipun jarak tempuh antara lokasi satu dengan lainnya lumayan jauh dengan perjalanan darat, tetapi mata dijamin tidak akan lelah memandang di sepanjang perjalanan di Ranah Minang. Bagi traveller (wisatawan) yang berasal dari provinsi lain, transportasi sudah mendukung. Dari Bandara Internasional Minangkabau di Kota Padang, wisatawan bisa menjangkau berbagai pilihan tempat wisata tujuan melalu perjalanan darat. Tidak usah khawatir, jalanan aspal di sepanjang Sumbar tidak berlobang. Bahkan dalam perjalanannya, hamparan alam Bukit Barisan perlahan mengobati rasa lelah.

Karena saking banyaknya wisata di Sumar, ada beberapa lokasi yang bisa menjadi pertimbangan. Mengingat lokasi tersebut menjadi ciri khas di Ranah Minang. Seperti menikmati tradisi makan Bajamba dan melihat kemegahan Istano Basa Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, kemudian menyaksikan panorama tebing Lembah Harau layaknya Green Canyon AS dan Kelok 9 di Kabupaten 50 Kota, serta merasakan sensasi di Negeri di Atas Awan Puncak Lawang dengan view Danau Meninjau dan terlibat langsung dalam pengolahan gula merah menggunakan tenaga kerbau di Kabupaten Agam.

Perjalanan masih panjang. Ada pilihan lokasi ikonik yang hanya ada di Kabupaten Bukittinggi. Yakni Jam Gadang yang dibangun 1826. Jam setinggi 26 meter tersebut didatangkan langsung Rotterdam, Belanda saat zaman penjajahan. Bahkan menjadi barang langka, karena hanya dibuat dua unit di dunia, satu diantaranya berada di London, Inggris. Tidak jauh dari “Jam Besar” itu, ada rumah kelahiran Mohammad Hatta (Bung Hatta) yang masih terasa aura besar Bapak Proklamator, tebing Ngarai Sianok hingga merasakan zaman penjajahan di Lobang Jepang yang dibangun dari keringat warga pribumi itu.

Membuat Takjub Wisatawan

Baca juga :  Menikmati Keunikan Air Terjun Bertingkat Curug Sewu Kendal

Benar saja, perjalanan yang lumayan jauh terbayar sudah saat menikmati satu tempat ke tempat lain. Seperti yang dirasakan sejumlah wisatawan dari Cibubur, Jawa Barat. Diantaranya Linda Yuniarsih (43). Bagi ibu sosialita itu, banyaknya tempat wisata di Sumbar akhirnya disaksikannya sendiri. Mengambil start dari Kota Padang usai mendarat dari Bandara Minangkabau, dia bersama tujuh rekannya menikmati satu persatu lokasi wisata yang berbeda. “Tujuan kita salah satunya Kelok 9. Jadi serasa di mana gitu. Bangunan jalan yang menjulang tinggi di antara tebing tersebut membuat takjub,” aku dia

Begitu juga dengan pasangan muda-mudi dari Surabaya, Jawa Timur, Lorin (31) dan Andrie (33). Bagi keduanya mengunjungi Sumbar memang sudah direncakan tahun lalu. Karena selama ini berkutat di kota besar dengan dipenuhi bangunan-bangunan tinggi di berbagai wilayah. Namun berbeda jika padangan mata diarahkan ke tebing-tebing tinggi yang menjulang nan elok. Seperti di Lembah Harau. “Jadinya plong ya. Biasanya kalau di Jawa kan tebing-tebingnya tidak terlalu tinggi. Di Sumbar kita bisa menyaksikan kebesaran Tuhan. Jadinya kan tak lelah mata memandangnya. Indah sekali,” celetuknya.

Menurut Kasi Strategi Pemasaran Dinas Pariwisata Sumbar, Riza Chandra, apa yang ditawarkan di Sumbar berbeda dengan wisata di daerah lain. Tidak hanya hamparan alam yang memukau, tetapi wisata ikonik. Mulai dari peninggalan sejarah dan bangunan legendaris seperti Kelok 9. Bahkan tontonan bertaraf internasional selama ini disuguhkan sebagai salah satu penarik wisatawan lokal dan internasional. Diantaranya Tour De Singkarak, Langkisau Paralayang International, Padang Dragon Boat hingga Festival Lima Danau. “Diferensiasi atau pembeda ini, keunggulan dari Sumbar,” tutur dia.

Riza menjelaskan, karena jumlah wisatawan dari tahun ke tahun meroket tajam, koordinasi antara Pemprov Sumbar dengan Pemkab/Pemkot diperkuat. Apalagi pada zaman serba internet dan digital ini, membantu promosi tempat-tempat wisata yang selama ini kurang terekspose. Mengingat banyak diantaranya merupakan tempat wisata yang diincar oleh generasi muda atau millenal. “Bisa dijelajahi dari ujung Padang hingga Kabupaten 50 Kota. Banyak tempat menarik dengan spot swafoto atau selfie instargamable yang kekinian. Untuk menjangkaunya, infrastruktur juga sangat mendukung,” jelasnya.

Baca juga :  Penyalaan 1.000 Obor di Kampung Jawi

Sumbang Pendapatan Daerah

Asiten II Pemkab Agam, Isman Imran membenarkan, selama ini koordinasi antara Pemprov dengan Pemkab menjadi salah satu penunjang untuk pengembangan bidang pariwisata. Tidak hanya Pemprov, belum lama ini Kementarian Pariwisata juga memberikan bantuan pembangunan tonggak view di Puncak Lawang setinggi 805 meter yang terkenal dengan sebutan Negeri di Atas Awan itu. Namun dia berharap infrastruktur terus digenjot, karena di kawasan tersebut selama ini menjadi lokasi Tour De Singkarak. “Kami tak henti-hentinya promosi. Baik ke luar kota, bahkan luar negeri,” kata dia.

Kabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemkot Bukittinggi, Suzi Yanti ikut menerangkan, selama ini pendapatan asli daerah (PAD) sebagian besar disumbang oleh dunia pariwisata. Karena di Bukittingi memiliki puluhan tempat wisata alam hingga ikonik. Dia mencatat, kunjungan wisatawan lokal dan mancanegera pada 2016 mencapai 470 ribu orang. Adapun pada 2017 naik menjadi 478 ribu orang. Bahkan di objek wisata berbayar, menembus angka 1 juta orang. “PAD Bukittinggi yang mencapai 78 miliar, 75 persen dari pariwisata. Beberapa tahun ini kunjungan wisatan meroket tajam,” ungkapnya.

Warga Desa Hulu Air, Kecamatan Harau, Kabupaten 50 Kota, Ondri (58) yang setiap hari mengadu nasib di kawasan wisata Kelok 9, membenarkan jika wisatawan tidak pernah surut. Bangunan berupa jalan dan jembatan yang dibuat pemerintah beberapa tahun silam, menjadi lokasi wisata pilihan bagi wisatawan. Saat libur panjang, Lebaran dan Natal setiap hari bisa ratusan hingga ribuan orang naik ke kawasan perbukitan tersebut. “Di sini (Kelok 9) juga membuka lahan pekerjaan baru bagi kami yang sebelumnya nganggur. Ada yang buka jasa foto hingga jual merchandise,” aku dia. (Asep Abdullah)

Artikel Lainnya

Leave a Comment