Home » Kamu Wajib Tahu! Asal Usul Nama Kampung Tradisional di Kota Semarang

Kamu Wajib Tahu! Asal Usul Nama Kampung Tradisional di Kota Semarang

by GaleriWisata.id
Galeri Wisata
HAE Sobat Galwis. Buat kamu yang orang Semarang, mungkin sudah akrab dengan nama-nama tempat di bawah ini.
Tapi apa iya kalian tahu asal usul penamaan tersebut? Nih, berikut nama-nama tempat/kampung tradisional asli di Kota Semarang, berikut asal usul penamaannya secara singkat. Ini sudah minGal sarikan dari banyak sumber lo, tinggal dinikmati mawon

Banyumanik: konon katanya berasal dari tetesan air mata Nyi Ageng Pandanaran (istri pendiri Kota Semarang, Sunan Pandanaran) yang kemudian berubah menjadi sebuah mata air (banyu) yang berkilauan seperti berlian (manik)

Beteng: dahulu di sana ada bentengnya.

Bulustalan: dahulu di daerah yang berdekatan dengan Pasar Bulu ini banyak terdapat kandang kuda (stall).

Gandekan: dahulu sebagai tempat pengrajin emas.

Gang Besen: dahulu di daerah ini banyak penjual besi.

Gang Lombok: dahulu di daerah ini adalah kebun Lombok.

Gang Mangkok: dahulu di daerah ini banyak penjual barang pecah belah.

Gedangan: dahulu daerah ini merupakan sebuah kebun luas yang ditanami pohon pisang milik seorang priyayi. Dari sana kemudian diberi nama gedangan atau daerah penghasil pisang.

Gendingan: dahulu di daerah ini banyak pemain dan pembuat alat musik gamelan.

Mangkang: nama yang aslinya berasal dari kata Wakang Tjoen atau perahu layar besar (armada Laksamana Cheng Hoo), yang menurut kisah, pertama kali membuang sauh di lepas pantai Mangkang.

Gunung Brintik: dahulu ada tokoh masyarakat bernama mbah Brintik. Daerah ini ada di sekitar Bergota.

Gunungpati: daerahnya bergunung-gungung dan di sana pernah tinggal seorang kyai bernama  Progolo Pati. Makam tokoh ini juga masih ada sampai sekarang di daerah Cepoko.

Jagalan: dahulu daerah ini ada tempat pemotongan hewan.

Kalibanteng: di daerah ini tinggal seorang perempuan sakti bernama Nyai Banteng Wareng. Pada saat meninggal kemudian dimakamkan di tepi sungai dekat rumahnya. Sejak itulah oleh masyarakat di daerah tersebut dikenal dengan nama Kalibanteng.

Baca juga :  Ada Brankas Peninggalan Oei Tiong Ham di Pringsewu Resto

Kampung Baris: dahulu daerah milik tuan Bars, seorang Belanda yang tinggal di Semarang.

Kampung Baterman: dahulu daerah milik tuan Batermann.

Kampung Batik: dahulu penduduknya banyak yang membatik. Tradisi ini kembali dilanjutkan sampai sekarang dimana dulu sempat terhenti ketika kampung ini mengalami kebakaran besar di era penjajahan Jepang.

Kampung Bustaman: diambil dari nama seorang kyai bernama Bustam yang tinggal di sini lalu berlanjut hingga anak cucunya.

Sekayu: merupakan pusat tumpukan kayu saat hendak dibangun Masjid Besar Semarang (Masjid Sekayu) oleh Kyai Kamal dimana kayunya dihanyutkan di Kali Semarang yang berada dekat dengan kampung ini.

Kanjengan: dahulu sebagai tempat tinggal dan kegiatan pemerintahan Kanjeng Bupati Semarang (setingkat walikota/bupati).

Kapuran: dahulu di daerah ini ada gudang kapur.

Kelengan: dahulu daerah milik tuan Klein.

Kentangan: dahulu di daerah ini banyak orang menanam kentang.

Kampung Krese: dahulu daerah milik tuan Chriss.

Kampung Kulitan: dahulu daerah ini tempat penyamakan kulit milik pedagang kaya bernama Tasripin.

Kampung Leduwi: dahulu daerah milik tuan Lodewijk.

Kampung Ligu: dahulu disana ada pedagang Cina bernama Lie Goe.

Ngaliyan: dahulu di daerah ini ada saudagar kaya Cina bernama Ang Lay An.

Petek: dahulu daerah sini mempunyai khas ikan asin petek.

Kampung Melayu/Layur: dulu disini  dan sampai skr bnyak warga keturunan Melayu dan Arab.

Pedamaran: di daerah ini ada sebuah makam seorang kyai bernama Damar (ada juga yang mengatakan sebagai tempat perdagangan damar/bahan pewarna batik).

Pederesan: dahulu disana banyak orang yang menderes pohon enau atau kelapa untuk dibuat gula Jawa.

Pekojan: dahulu penduduknya banyak suku Koja asal Gujarat.

Peterongan: dahulu daerah ini banyak penjual terong.

Baca juga :  Sentra Kuliner Depok, Perbanyak Daftar Wisata Kuliner di Semarang  

Petolongan: dahulu di daerah ini banyak pembuat talang/tolong/saluran curah air hujan.

Petudungan: dahulu daerah ini banyak penjual tudung/caping/tutup kepala.

Sayangan: dahulu sebagai tempat perajin alat-alat rumah tangga dari logam/tembaga.

Sebandaran: dahulu daerah ini merupakan daerah bandar jika melewati harus membayar.

Seteran: dahulu daerah ini ada rumah seorang zuster Belanda.

Wotgandul: dahulu di daerah ini ada jembatan gantung (gandul).

Watu Gong: disana terdapat sebuah batu yang menyerupai gong.

Pekunden: dulu sentra penghasil alat grabah (kundhi).

Genuk: dulu ada peninggalan berupa genuk.

Tugu: karena terdapat candi tugu batas yang konon merupakan batas negara Majapahit dan Pasundan.

Kreo: karena legenda kera yang angreho (menjaga dan membantu) Sunan Kalijaga saat mendapat tugas mencari kayu jati untuk tiang utama Masjid Demak.

Jatingaleh: legenda pohon jati yang berpindah tempat ketika mau ditebang, juga terkait dengan kisah Sunan Kalijaga saat mendapat tugas mencari kayu jati untuk tiang utama Masjid Demak.

Gedung Batu: karena ada bangunan besar permanen/kelenteng yang sekarang diberi nama Klenteng Sam Poo Kong. Keberadaannya terkait dengan kehadiran Laksamana Cheng Ho di Semarang.

Gedung Gula: (samping Pedamaraan) ada gudang penyimpanan gula.

Mberok: dulu ada jembatan de broek yang bisa dibuka dan ditutup ketika ada kapal melintas di Kali Semarang. Sekarang jembatannya masih dipertahankan namun hanya satu yang masih orisinil. Hayo tebak yang mana yang asli?

Nah sob, itu tadi nama-nama tempat atau kampung asli di Semarang. Hampir semuanya dinamakan sesuai pelafalan atau lidah orang Jawa.
Adakah di antara kalian yang tinggal di kampung-kampung tersebut? Hayo ngaku

Artikel Lainnya

Leave a Comment