Home » 5 Tujuan Wisata Religi Yang Wajib Kamu Kunjungi di Semarang

5 Tujuan Wisata Religi Yang Wajib Kamu Kunjungi di Semarang

by GaleriWisata.id

SEMARANG merupakan salah satu kota dengan kekayaan budaya dan multikultur yang tercipta karena akulturasi. Maka tak heran jika di kota ini, akan banyak yang dijumpai aneka rupa tempat-tempat ibadah dari berbagai agama yang berbeda.

Menariknya, semua penganut agama yang meski berbeda, namun dapat hidup rukun damai. Bahkan beberapa kebudayaan dapat mempengaruhi satu sama lain dalam perkembangannya.

Berikut 5 tempat tujuan wisata religi yang harus kamu kunjungi saat berwisata di Kota Semarang:

MAJT

Galeri Wisata

Namanya juga masjid, pastinya adalah tempat untuk beribadah umat Islam. Nah menariknya MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah), ia memiliki gaya arsitektural bangunan campuran Jawa, Islam dan Romawi.

Dirancang oleh Ir H Ahmad Fanani, bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun di bagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter di tiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Gaya Romawinya terlihat dari bangunan 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul.

Sedangkan di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“. Menariknya lagi, ada payung-payung elektrik raksasa yang hanya dibuka saat hari tertentu.

Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat dimana pengunjung juga dapat masuk dan naik menggunakan lift setelah membayar HTM Rp7500 per orang.

Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha.

Untuk menggunakan teropong, kamu musti memasukkan koin receh seribuan agar bisa melihat pemandangan seantero Semarang dari ketinggian.

Baca juga :  Asyik Nih, Pembangunan Kawasan Wisata Borobudur Dipercepat

Gereja Blenduk

Galeri Wisata

Nama sebenarnya dari gereja ini adalah GPIB Immanuel Semarang. Namun karena bentuk ubahnya yang setengah lingkaran atau mBlendhug dalam Bahasa Jawa, maka ia lebih popular disebut Gereja Blendug.

Ini merupakan gereka tertua yang dibangun di Semarang yakni pada tahun 1753 dan masih terjaga dengan baik sampai saat ini. Posisinya terletak persis di tengah Kota Lama, sebuah areal kota yang dibangun oleh Belanda yang kono juga dikelilingi oleh benteng pertahanan.

Ciri khas bangunan ini berkubah besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W Westmaas dan HPA de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini.

Pagoda Avalokitesvara

Galeri Wisata

Pagoda Avalokitesvara terletak satu kompleks dengan Vihara Buddhagaya, letaknya di sisi selatan kota di pinggir jalan raya Semarang-Solo (bukan jalan tol). Pagoda ini juga dikenal dengan nama Pagoda Kwan Im karena memang tempat ibadah umat Buddha.

Mulai dibangun pada bulan Agustus 2004 dan diresmikan pada tanggal 14 Juli 2005, Pagoda Avalokitesavara dinobatkan sebagai pagoda yang tertinggi di Indonesia. Pada bangunan ini juga sangat kental dengan budaya Tiongkok yang merupakan bangunan suci sebagai perwujudan Metta Karuna (cinta kasih) para Buddha di alam semesta ini.

Pagoda Avalokitsavara memiliki tinggi 45 meter, dibangun dengan hampir semua konstruksi bangunannya terbuat dari beton. Di bangunan ini banyak menggunakan latar warna merah yang dibawa dari tradisi Tiongkok, yang menurut orang Tiongkok melambangkan kebahagiaan.

Terdiri dari tujuh tingkat yang menjadi tempat dari sekitar 30 patung pemujaan. Di dalamnya terdapat sebuah rupa Avalokitesvara Boddhisatva yang tingginya 5 meter yang berukuran raksasa mendiami rongga tengahnya, dikelilingi gunungan buah-buahan dan bunga sebagai persembahan.

Ada pula pohon Boddhi di sekitar pagoda dimana di pohon ini konon merupakan tempat pertama Sang Buddha bermeditasi. Terdapat pula batu yang bentuknya mirip gong yang menjadi penanda awal mula daerah Watugong, tempat vihara berada.

Klenteng Sampokong

Galeri Wisata

Sesuai namanya, klenteng ini dibangun sebagai tempat pemujaan bagi Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He (Cheng Ho). Dulunya merupakan petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Baca juga :  Semarang Kota Wisata Terbersih se-Asia Tenggara

Selain nuansa China yang kental dengan klenteng dan dominasi warna merah, sejak 2011 lalu dihadirkan pula sebuah patung Cheng Ho raksasa yang merupakan patung Cheng Ho terbesar di dunia. Patung perunggu itu memiliki tinggi 10,7 M.

Begitu pula dalam memperingati 600 tahun pendaratan Cheng Ho di Semarang, telah dibuat relief pendaratannya disertai pengantar 3 bahasa yakni China, Inggris dan Indonesia. Tradisi perayaan rutin tiap tahun pendaratan Cheng Ho ini pula yang masuk dalam Calender of Event (CoE) Kemenpar.

Pura Agung Giri Natha Semarang

Galeri Wisata

Pura ini mulai dibangun tahun 1968 oleh umat Hindu yang berdomisili di Kota Semarang. Namun baru diresmikan sekitar tahun 2004 yang lalu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardianto.

Pura Giri Natha Semarang merupakan Pura terbesar di Kota Semarang dimana ada sekitar 2000 jiwa penganut Hindu di kota ini.

Dalam kegiatan keagamaan dilakukan pada peringatan (piodalan) yang jatuh setiap setahun sekali, yakni Purnama Sasih Kedasa. Setiap hari selalu ada saja umat Hindu yang sembahyang disana, bahkan beberapa diantaranya melakukan Yoga bersama pada saat Purnama atau Tilem (bulan mati). Piodalan Pura Giri Natha semarang jatuh setiap tahun yaitu setiap Purnama Sasih Kadasa.

Setiap hari ada saja umat yang bersembahyang ke pura tersebut, bahkan hari kebesaran lainnya, seperti purnama (bulan terang) dan tilem (bulan gelap) umat akan melakukan sembahyang bersama keluarganya dan melakukan semadi. Bahkan ada juga umat lain melakukan yoga di pura tersebut.

Untuk masuk ke sini, tidak dipungut biaya namun seluruh pengunjung dan umat, harus mengenakan selendang yang sudah disediakan.

 

Selain keempat destinasi wisata religi di atas, sebenarnya masih sangat banyak tempat, peninggalan, makam atau bahkan bangunan keagamaan bersejarah yang masih digunakan hingga saat ini.

Artikel Lainnya